A Copy of Me

Kembali ke masa 2 tahun lalu sewaktu Dominico baru saja lahIr. Saya pikir dia akan tumbuh mirip dengan ayahnya, hanya karena dia anak laki- laki. Tapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Makin lama Nico makin mirip saya, rada-rasamya. Mata bulatnya, rambut kriwilnya, hidung kecilnya, bahlan perilakunya mirip saya sewaktu kecil ( ini kata ibu dan kakak saya). Namun bukan itu sebenarnya yang saya pikirkan. Saya dan suami pernah berkomitmen, bahwa tanggungjawab besar kami adalah menjadikannya manusia yang sukses dan bahagia, bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun terutama juga bermanfaat bagi banyak orang.

Membekali anak bukan dengan uang dan harta, tapi dengan ilmu dan attitude yang baik. Demikian ibu saya pernah berkata. Dan itu ternyata tidak gampang. Tanpa disadari ternyata Nico otomatis meniru kebiasaan-kebiasaan yang dilihatnya sehari-hari di rumah. Gaya saya menelepon, gaya ayahnya tidur, semuanya dicopy. Kami jadi sadar harus semakin berhati-hati. Jangan sampai juga kebiasaan buruk kami tak sengaja ditirunya juga. Positifnya, kami semua di rumah jadi seperti berlomba-lomba bersikap baik. Kata-kata sederhana namun bermakna seperti permisi, dan terimakasih, menjadi kata-kata yang lucu ditirukan tapi juga manis didengar.

Sepertinya, bagus juga ya kalau kebiasaan-kebiasaan baik yang tadinya disengaja, menjadi habit yang melekat terus. Yang penting adalah menciptakan lingkungan yang sehat untuk anakku tumbuh besar, dan semoga apapun yang dicopynya dari ayah dan mamanya, adalah yang terbaik untuknya.

Advertisements